Keteguhan Hati

 Judul Puisi 1 : Keteguhan Hati

Nama Penulis : Sesi Herawani


Lihatlah dia yang termenung nun jauh di sana

Lukisan-lukisan masa lalu indah terkenang

Sudut bibir tertarik menyimpul senyum

Pahit, nyatanya kini tak mengganggu

Walau langkah tertatih bertopang pada tongkat kayu


Dunia lihatlah betapa indahnya senyuman itu

Mengalahkan keindahan duniawi

Dia adalah manusia yang bersyukur

Penyesalan tak pernah ada pada raut wajahnya

Betapa bangganya berdiri tegak menantang kehidupan suram


Tidak pernah dia berpangku tangan

Tidak pernah dia mengharap belas kasihan

Karena inilah hidupnya

Karena inilah dirinya


Bersyukur walau masa kelam menghampirinya

Motonya, hidup ini disyukuri, bukan disesali

Keteguhan hatinya sekeras baja

Binar matanya secerah warna pelangi sehabis hujan

Kesempatan tak hanya datang sekali

Karena baginya, masih banyak kebahagiaan esok



Judul Puisi 2 : Jiwa Penikmat Fana

Nama Penulis : Sesi Herawani


Mereka jatuh berguguran kehilangan daya

Dihantam kenyataan bahwa bumi telah menua

Bergelimang harta serta tahta kini tiada guna

Pandemi corona menelan jiwa anak manusia


Ini bukan tentang sesal manusia bersekat dusta

Ini hanya nasehat untuk jiwa penikmat fana

Berhentilah mengobrak-abrik jantung dunia

Mengolah noda berpoligami dengan dosa


Duduklah dan bersimpuh pada yang kuasa

Maafkan tangan gesit yang kadang meluka

Maafkan otak jenius yang kadang disalah guna

Sudilah kiranya merengkuh kami dalam realita.


Judul Puisi 3 : Wanita Malam

Nama Penulis : Sesi Herawani


Pernahkah dia berharap belas kasih?

Pernahkah dia meminta menjadi Layak?

Dia tidak hidup dengan menjual kisah

Saat dunia tak lagi memihak justru mengoyak


Percayalah, ini bukan harapan serta cita-citanya

Dia hanya korban keadaan dan kehidupan fana

Dia tidak memiliki kesempatan atau pilihan ganda

Pikirnya hanya memikat dan menggoda melebur dalam dosa


Bekerja dalam kegelapan memuaskan si dompet tebal

Dia juga pasti lelah hidup berlumur noda, tiada tempat tuk mengadu

Dia wanita malam yang mulanya suci, jatuh berkubang aral

Tangannya pernah terulur, bibirnya pernah meraung, matanya pernah menangis, apakah kita tahu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak seindah ekspetasi

Sebuah pesan untuk Tuhan

SIMPUL BASUH TANGIS